Pages

Friday, May 1, 2026

Voting dan Referendum Homoseksualitas



Mungkin belum banyak yang tahu, pencabutan status "mental disorder" bagi homoseksualitas merupakan hasil voting dan referendum. Kok bisa?

***
Saat menulis tesis di kampus Hasyim Asy'ari Tebuireng, aku sedikit melacak perdebatan posisi homoseksual di kalangan para psikiater Amerika, yang tergabung dalam APA (American Psychiatric Association) .

Aku merasa wajib melacaknya karena tesisku berjudul "Rekonstruksi Perkawinan Sesama Jenis dalam Hukum Islam perspektif Hak Asasi Manusia dan SOGIE-SC,"

Jika tidak menguasai soal homoseksualitas, bisa-bisa aku tidak lulus munaqosah (ujian).

APA adalah organisasi seperti "Vatikan" dalam kekatolikan -- sentral dan otoritatif untuk masalah psikologi dan psikiatri. Hitam kata mereka, hitam kata dunia; "menyimpang" kata mereka, "menyimpang" kata dunia. Gila tidaknya seseorang, mereka yang menentukan. 

Nah, akhir tahun 1973, mereka mengadakan semacam muktamar atau konsili. Ribuan psikiater kumpul. Salah satu yang dibahas adalah posisi homoseksualitas; apakah ini termasuk gangguan jiwa (mental disorder) atau tidak. 

Peserta terbelah menjadi dua kubu. Persis dalam kasus ijazahnya Jokowi.

R.L. Spitzer menyatakan homoseksualitas bukan mental disorder. Pengikutnya cukup banyak. Irving Bieber berposisi sebaliknya; homoseksualitas adalah gangguan jiwa. Followernya tidak sedikit.

Keduanya berdebat tajam. Debat akademik yang indah dan menegangkan.

Karena tidak ada kata sepakat, maka badan pengurus tertinggi (Board of Trustee) APA melakukan voting di internal mereka. Sebagai catatan, selain dua orang tadi, ada beberapa nama yang terlibat, antara lain; John Fryer dan John Spiegel, presiden APA 1973-1974. 

Hasil voting menunjukkan mayoritas setuju homoseksualitas dihapus dari daftar gangguan mental (DSM-II). Artinya jelas, homoseksualitas bukan lagi mental disorder. Board of Trustee juga mengenalkan konsep anyar, "sexual orientation disturbance" atau SOD.

SOD adalah kondisi seseorang yang mengalami tekanan psikologis karena orientasi seksualnya, atau konflik dengan orientasi tersebut, dan ingin mengubahnya. 

Begini penjelasannya; misalkan, ada seorang lesbian mengalami tekanan batin akibat persekusi dari kiri-kanannya. Untuk keluar dari situasi tersebut dia berusaha sekuat tenaga menjadi hetero. Tekanan batin dan keinginan berubah inilah yang disebut SOD. 

Terhadap situasi lesbian ini, hasil voting badan pengurus tertinggi APA beroperasi pada dua level. Pertama, lesbian bukan mental disorder, alias normal, senormal heteroseksual. 

Kedua, tekanan psikologis lesbian tersebut merupakan gangguan yang perlu dibantu. Secara konkrit, para psikolog dan psikiater berkewajiban membantu lesbian ini agar bisa menerima kondisinya -- bukan untuk "menyembuhkannya" menjadi heteroseksual. 

Apakah hasil voting ini melegakan semua anggota APA? Tidak!

Debat terjadi di mana-mana. Ketidakpuasan sungguh menganga di antara mereka. Kelompok Bieber terus mengkritik hasil voting tersebut. 

Dengan manuver mengagumkan, mereka berhasil memaksa APA untuk melakukan referendum; apakah setuju atau menolak keputusan board of trustee.

Referendum dilakukan pada 1974, beberapa bulan setelah voting board of trustee, menggunakan mekanisme mail ballot (surat suara via pos).

Dari 20an ribu anggota APA, ada sekitar 10.000 surat suara yang masuk ke panitia. Hasilnya, 58% mendukung keputusan Board of Trustee, 37% menolak dan sisanya, sekitar 5%, abstain/tidak valid.

Sejak saat itu, homoseksualtas yang diliyankan, dinajis-najiskan, dipenyakit-penyakitkan, sejak 0 masehi, telah dimerdekakan melalui proses voting. 

Seluruh psikolog dan psikiater di dunia merujuk APA dan WHO sebagai kiblat epistemologis. Hitam kata dua organisasi tersebut, hitam kata mereka. 

Maka jika ada psikolog/psikiater yang menuding homoseksualitas sebagai mental disorder, ia mungkin dulunya mahasiswa abal-abal. 

Jika ada orang awam, sepertiku, yang ngotot homoseksualitas adalah mental disorder, tugas kita memberitahunya dengan baik. Seandainya ia tetap ngotot dan tantrum, marilah kita sarankan ia menemui psikolog atau psikiater agar sanggup menerima kenyataan homoseksualitas bukan mental disorder.(*)


https://medium.com/@gantengpolnotok/voting-dan-referendum-homoseksualitas-73fe5a57de59

Tuesday, April 14, 2026

PENDETA MENGUTIP AYAT INI SAAT MEMBERKATI PERKAWINAN BEDA AGAMA RERA & MOSES



Moses tidak bisa lagi menahan emosinya. Tangisnya pecah. Suaranya sesenggukan ketika memberikan sambutan di akhir pemberkatan perkawinan beda agamanya dengan Rera, Minggu (10/11).
"Saya mengucapkan terimakasih kepada bapak dan ibu (orangtua Rera). Saya benar-benar tidak menyangka bapak dan ibu akhirnya mau hadir dalam pemberkatan kami. Diberikan izin untuk menikahi Rera adalah anugerah. Namun kehadiran bapak dan ibu saat itu sungguh membuat saya bahagia," ujarnya dengan sesenggukan. 
Ruang ibadah sontak senyap, larut bersama emosi Moses dan Rera. 

Ciganjur Dan Perkawinan Beda Agama



Dalam urusan perkawinan beda agama (PBA), setahuku keluarga Ciganjur tidak pernah mengeluarkan sikap resminya. Keluarga Gus Dur yang menjadi panutan ribuan orang ini sikapnya netral; tidak mendukung juga tidak melarang. Hanya saja, kehadiran Inaya Wahid dalam proses ijab kabul PBA Rera dan Moses, Minggu (10/11/2024) mau tidak mau, sedikit menguak ke arah mana sikap keluarga ini.
***

Friday, March 27, 2026

RIYAYAN DIKOMANDANI NU-KATOLIK



"Aku punya kawan, Katolik cerdas, barusan jadi doktor hukum, pernah di seminari. Nampaknya ia agak jarang ke gereja. Tolong sampeyan libatkan lagi di bagian PHUBB, mas,"
"Paroki mana, gus?"
"Entahlah. Tapi rumahnya lho satu perumahan karo sampeyan,"
"Lho?! Siapa namanya, Gus?"
---

Monday, March 23, 2026

Relasi Kristen-Islam: Membaca Ulang Pernikahan Unik Nabi Muhammad SAW


Ternyata, berislam hingga usia 50 tahun tidak menjaminku tahu sepenuhnya lika-liku perkawinan Nabi Muhammad (NM), tak terkecuali dengan Ramlah bint Abi Sufyan --akrab dipanggil Ummu Habibah (UH). 

Perkawinan NM dengan UH menurutku tergolong unik, salah satunya, karena NM diwakili King Aramah (KA), Raja Kerajaan Aksumit. Dalam literatur klasik Islam dia identik dengan Ashamah ibn Abjar, Raja Habasyah Ethiopia, pengikut Kristus, memerintah periode 614-630 M.

Monday, March 9, 2026

PUTTI -- Perhimpunan Transpuan dan Transman Tionghoa Indonesia

"Ayo Cinere-Cinere ngumpul. Diajak foto sama Gus Aan," kata Mikha memberi komando kumpulan kawan-kawannya di warung kopi depan Hotel Lotus Kediri, Minggu (1/3).

**
Mikha adalah aktifis transpuan, sudah malang-melintang di dunia minoritas gender dan seksual Jawa Timur. Ia sudah aku anggap sebagai adikku sendiri. 

Tuesday, February 10, 2026

TAK BISA JAUH-JAUH DARI SETIJADI


Entah siapa Setijadi itu. Yang pasti ia tentulah lelaki. Aku berani bertaruh. Tak pernah aku bertemu dengannya, baik maya ataupun nyata. 

Dua minggu lalu, aku diminta para senior Tionghoa menemani  perempuan Tionghoa, dosen di Singapura. Namanya Charlotte Setijadi, Never heard that name. 

Featured Post

Voting dan Referendum Homoseksualitas

Mungkin belum banyak yang tahu, pencabutan status "mental disorder" bagi homoseksualitas merupakan hasil voting dan referendum. Ko...