Pages

Monday, March 23, 2026

Relasi Kristen-Islam: Membaca Ulang Pernikahan Unik Nabi Muhammad SAW


Ternyata, berislam hingga usia 50 tahun tidak menjaminku tahu sepenuhnya lika-liku perkawinan Nabi Muhammad (NM), tak terkecuali dengan Ramlah bint Abi Sufyan --akrab dipanggil Ummu Habibah (UH). 

Perkawinan NM dengan UH menurutku tergolong unik, salah satunya, karena NM diwakili King Aramah (KA), Raja Kerajaan Aksumit. Dalam literatur klasik Islam dia identik dengan Ashamah ibn Abjar, Raja Habasyah Ethiopia, pengikut Kristus, memerintah periode 614-630 M.

Monday, March 9, 2026

PUTTI -- Perhimpunan Transpuan dan Transman Tionghoa Indonesia

"Ayo Cinere-Cinere ngumpul. Diajak foto sama Gus Aan," kata Mikha memberi komando kumpulan kawan-kawannya di warung kopi depan Hotel Lotus Kediri, Minggu (1/3).

**
Mikha adalah aktifis transpuan, sudah malang-melintang di dunia minoritas gender dan seksual Jawa Timur. Ia sudah aku anggap sebagai adikku sendiri. 

Tuesday, February 10, 2026

TAK BISA JAUH-JAUH DARI SETIJADI


Entah siapa Setijadi itu. Yang pasti ia tentulah lelaki. Aku berani bertaruh. Tak pernah aku bertemu dengannya, baik maya ataupun nyata. 

Dua minggu lalu, aku diminta para senior Tionghoa menemani  perempuan Tionghoa, dosen di Singapura. Namanya Charlotte Setijadi, Never heard that name. 

Friday, February 6, 2026

SEMPRO CALON DALANG POTEHI


Tiga hari lalu, aku mengunjungi Museum Wayang Potehi (WMP) Gudo. Sudah agak lama aku tidak mengunjungi pemiliknya, Mas Toni. 

Sebulan sebelumnya kami janjian untuk maesong. Sayangnya ia tidak bisa hadir. Mamanya masuk rumah sakit dan ia harus menjaganya. Anak laki-laki adalah kekasih ibunya. Itu hukum alam.

Monday, February 2, 2026

MENCARI HIKMAT LGBT DI MANADO


"Karena firman itu telah menjadi daging," aku berbisik pada Prof. Emanuel Gerrit Singgih (EGS) di GMIM Sion Winangun Manado, Jumat (2/2). "Anda telah menyelamatkan kekristenan Indonesia, pak, dan juga kami," lanjutku.

Aku berkata seperti itu saat melihat hampir seratusan orang yang hadir memenuhi gereja tersebut menyuarakan pentingnya mengakhiri stigmatisasi terhadap kelompok LGBTIQ, dalam bedah buku "Menafsir LGBT dalam Alkitab,"

Thursday, January 29, 2026

SEPEDA UNGU UNTUK MESSIAH DAN ELIANA


Aku sempat ragu sepeda warna ungu atau biru yang akan aku pakai ke pasar. Dua sepeda pancal tersebut adalah warisan dari Galang dan Cecil yang sudah tidak dipakai lagi.

Aku putuskan pakai ungu saja meski rem belakangnya tidak cukup nyaman. Ungu bukanlah warnaku. Hanya saja, aku sulit tidak memperhatikannya. Semacam ada magnet yang terasa membetotku --tidak peduli apakah aku suka atau tidak.

Dalam sejarah Yunani kuno, ungu merupakan warna yang melambangkan kebangsawanan dan kedaulatan. Hanya keluarga sultan dan kroni-kroninya saja yang mampu memakainya.

Entah kenapa bisa seperti itu. Sangat mungkin karena tidak mudah membuat warna ini. Diperlukan banyak keong laut sebagai bahan warna ini. Kabarnya.

Ungu semakin ngehit sebagai warna sultan kala Raja Sulaiman (Solomon) memilihnya sebagai warna tirai kuil suci yang ia bangun di Yerussalem. Konon. Aku belum menyaksikannya sendiri.


Saat Yesus disiksa tentara Romawi, konon, Ia dijubahi warna ungu bersamaan dengan mahkota duri. "Hail King of Jews!" sorak mereka memcemooh seraya memukuliNya.

Mungkin itu sebabnya banyak kawan-kawanku pendeta memakai selendang berwarna ungu di masa tertentu. Entah karena motivasi kesultanan (royalty) ataukah justru sebagai solidaritas atas penghinaan padaNya.

Aku belum tahu, misalnya, apakah warna jubah Nabi Muhammad juga ungu ketika mengalami penderitaan akibat makanan yang diduga bercampur racun. 

Namun yang aku tahu, Messiah tidak memakai warna ungu saat "menyentuh," Eliana -- pekerja seks yang ditugaskan menggoda Messiah.

"Do you think we will have a sex?" tanya Messiah saat Eliana menelusupkan tanganya ke payudaranya sendiri.

"I want to," ujar Eliana sembari mulai membuka mantelnya.

"How's that going to cure you?" Messiah terus mencecarnya dengan pertanyaan. Eliana memang mengklaim kedatangannya menemui Messiah di hotel karena ingin sembuh dari penyakitnya.

Namun Messiah sudah tahu siapa Eliana --pekerja seks yang dibayar orang penting di Gedung Putih untuk mendekreditkannya. Tanpa disadari, dua orang ini sedang diawasi cctv tersembunyi. Dikontrol Will Mather, seorang US Marshall. Ia diminta mengawasi Messiah 24 jam.


Di layar cctv, Will melihat jelas Messiah, dengan kelembutan yang sangat piawai, berhasil menyadarkan Eliana agar tidak meneruskan menjadi kaki tangan orang jahat. 

Saat itu Messiah meminta Eliana tidak takut berkata jujur; tidak hidup dalam kepura-puraan.

"How can you be the person God intended if you're not honest about who you are?" ujar Messiah. Eliana makin terisak. Sesenggukan. Air matanya meleleh deras.

Perkataan Messiah ini rupanya juga "menampar," Will yang selama ini merasa hidup dalam kepura-puraan. Pura-pura bahagia berkeluarga bersama istrinya, padahal ia tidak bisa hidup tanpa kekasih prianya. 

"I love you," kata Will kepada pacarnya, di ujung telpon.

Messiah adalah serial Netflix yang beberapa kali aku tonton. Sayangnya, karena mendapat banyak menuai protes gara-gara dianggap antiislam, serial ini berhenti produksi. Padahal menurutku film ini bagus sekali. 

****
Pisang ijo, tahu, kopi ketan sambel, krupuk, tempe, dan air kelapa. Nggak sampai 40k. Cukup untuk berhari-hari.(*)

----
https://www.google.com/amp/s/www.christianity.com/wiki/holidays/why-is-the-color-purple-associated-with-easter.html?amp=1

https://sunnah.com/bukhari:3169
https://sunnah.com/bukhari:2617

https://www.google.com/amp/s/www.independent.co.uk/arts-entertainment/tv/news/messiah-netflix-series-1-s2-cancelled-islamophobia-jordan-a9430946.html?amp

**FB 29 Januari 2022

A-M-B-Y-A-R



Akhirnya jebol juga air mata Kartika Diredja saat menjadi partnerku memfasilitasi sesi STIGMA di forum Chtistian Study for Muslim Scholars 2020 Asosiasi Teolog Indonesia, Senin (27/1), di STT Setyabakti Malang.

Suara perempuan Tionghoa ini semakin parau di hadapan puluhan peserta. Ia nampak begitu terluka saat 16 orang Islam "mendapat" stigma dari puluhan mahasiswa/mahasiswi STT SATI yang hadir dalam sesiku. 

"Saya bersama mereka selama beberapa hari ini. Mereka orang baik. Tidak seperti yang kalian tuliskan di papan ini," katanya serak. Air matanya makin meluap saat ia menautkan luka historik yang ia miliki bersama keluarganya. Peserta Islam menyodorkan tisu padanya 

Diam-diam aku merasakan buliran hangat meleleh dari mataku melihat perempuan ini dari pojokan. 

"Cuk, ambyar kabeh," aku membatin.

Saat sesi baru mulai, Kartika berdiskusi denganku untuk meminta setiap peserta Muslim menulis stereotype orang Kristen yang ada dalam pikirannya. Begitu juga sebaliknya; yang Kristen menulis stereotype orang Islam dalam pandangan mereka.

"Semua boleh menulis apa saja. Jangan takut ketahuan karena kalian tidak perlu menulis nama atau IG kalian di kertas tersebut," kataku memberi petunjuk. 

Semua kemudian menulis di kertas secara cepat. 

Aku menggotong papan besar di depan dan meminta selotip untuk menempelkan hasil tulisan mereka. White board aku beri tanda pemisah. "Kertas dari Kristen ditempel sebelah sini. Yang dari Islam ditaruh sebelah sini,"

Panitia bekerja sangat efisien. Kertas-kertas ditempelkan dengan sangat cepat. Aku beberapa kali mengecek hasil tempelan dua kelompok. Aku merasa agak kuatir.

"Guys, listen to me. Tdak boleh ada yang memotret hasil kerja kalian. Kertas-kertas di papan ini tidak boleh keluar dari ruangan," kataku setengan berteriak dan memberi senyuman.


Selanjutnya, aku meminta semua peserta untuk maju ke depan membaca hasil tabulasi aspirasi mereka, dengan terlebih dahulu meninggalkan gadget mereka. Aku memang agak kuatir jika ada yang memotret dan kemudian mengunggahnya ke media sosial.

Kekuatiran lebih karena konten-konten tersebut akan berpotensi memicu kesalahpahaman yang tidak perlu. Utamanya kertas konten yang berisi pandangan peserta Kristen terhadap Islam. Isinya begitu tajam. Sangat tajam. 

Itu sebabnya, barangkali, Kartika merasa perlu merespon hal itu. Bahkan, dosen mereka, bung gembala Jefry sempat agak emosional setelah mengetahui begitu pekat stigma yang dilekatkan terhadap keislaman. Ia terlihat benar-benar terkejut dan meminta maaf.

"Mereka tidak salah kok karena sejak awal kita meminta mereka bersikap jujur. Ini adalah fakta berharga yang perlu kita refleksikan bersama," kataku menetralisir. Aku juga meminta peserta Islam meneladani sikap elegan Kartika dan Jefry saat itu; berani meminta maaf saat klompoknya dianggap menyinggung perasaan orang lain. 

Aku kemudian diberi kesempatan agak panjang mengurai dari mana stigma pekat Islam terhadap Kristen yang berakibat fatal hingga hari ini. Stigma tersebut dilekatkan begitu mendalam melalui teks suci dan diimplementasikan secara totaliter dalam lanskap historis. 

"Persekusi terhadap Kekristenan sudah mendekati level genosida," kataku sembari memapar data yang dirilis BBC tahun lalu. Aku selanjutnya memapar kenapa hal itu bisa terjadi termasuk betapa dahsyat kontribusi Kristologi al-Quran. 

Mereka tertawa saat mendengar istilah kristologi al-Quran. Mungkin mereka belum diajari hal itu.

"Yang akan aku papar ini materi level master atau bahkan level doktoral yang mungkin belum pernah kalian nikmati. Kalian beruntung mengundangku," kataku sembari mapar model kristologi al-Quran yang begitu sangat dipengaruhi model kekristenan awal lawan dari kelompok Trinitarian aliran utama seperti sekarang.

Entah mereka paham atau tidak. Namun aku berusaha menjelaskan segamblang mungkin. "Kami ini seperti seorang adik yang begitu sangat bernafsu membuktikan dirinya juga sukses seperti kakaknya. You know what I mean, don't you?" kataku.

Di forum itu pula aku bertemu dengan salah satu peserta, perempuan asal GUSDURian Malang. Aku bertanya tentang trinitas karena ada sesi khusus tentang itu di acara ini. 

"Duh.. Aku masih bingung, gus. Makin rumit. Kenapa harus serumit itu ya?" katanya di luar forum. Aku yakin ia tidak sendirian. Aku sangat berkepentingan tiap peserta Muslim bisa memahami secara sederhana konsep tersebut agar bisa menetralisir stigma menyekutukan Tuhan (shirk) terhadap orang Kristen. Stigma ini sangat prevalent di kalangan orang Islam dan sangat berbahaya. 


"Jika ada orang Islam menganggap Tuhan orang Kristen ada tiga, maka sebagai lulusam CSMS kamu berkewajiban menjelaskannya. Tuhan mereka esa, bukan tiga," ujarku sembari menjelaskan dengan meminjam segitiga sebagai ilustrasinya. 

"Ini bukan penjelasan ideal namun setidaknya kalian bisa lebih terbantu memahami ajaran Kristen yang terstigma sebagai 'menyekutukan Tuhan' dalam ajaran kita," ujarku.

Aku melihat senyuman dari arah perempuan tersebut. Wajahnya terlihat lega. Tanda ia lebih paham. Aku meyakini.

Di luar forum, aku menemui gerombolan peserta Islam. Mewanti-wanti agar mereka terus belajar tentang kekristenan agar selamat dari stigma. 

"Jika bingung dengan penjelasan dari orang Kristen, kontaklah aku. Mungkin aku bisa menjelaskan dengan nalar Islam yang aku pahami," kataku sembari meninggalkan mereka, mencari kopi bersama Danang dan genk GUSDURian Malang serta Nganjuk.

Jam 3.30 aku membangunkan satpam STT. Memintanya membuka gerbang agar aku bisa mencegat bis. Aku harus bergeser ke Univ. Ciputra karena ada matakuliah Pancasila jam 7.30-nya.

Di atas bis, aku buka gadgetku. Melihat dua foto tempelan kertas-kertas mereka di papan. Aku perhatikan lagi sebelum kemudian menghapusnya. 

Thanks, ATI and STT SATI!

** Facebook 29 Jan 2020

Featured Post

Relasi Kristen-Islam: Membaca Ulang Pernikahan Unik Nabi Muhammad SAW

Ternyata, berislam hingga usia 50 tahun tidak menjaminku tahu sepenuhnya lika-liku perkawinan Nabi Muhammad (NM), tak terkecuali dengan Raml...